SeleraWaktu.com

Waktu Juga Punya Selera

Bisnis

Ketakutan Besar Terhadap Kenaikan Harga Beras Ketimbang BBM, Rawa Bakal Diubah Jadi Sawah

Pemerintah diminta agar terus mewaspadai kenaikan harga beras yang terus terjadi akhir akhir ini. Ekonomi Senior Chatib Basri menyebutkan, kenaikan harga beras efeknya lebih besar dibandingkan kenaikan harga BBM. “Beras merupakan komoditas politik. Paling sensitif. Bila harga beras naik, maka efeknya akan lebih besar dirasakan masyarakat,” kata Chatib Basri, Rabu (22/11/2023).

Chatib pun menceritakan saat ia menjabat sebagai Menteri Keuangan, ia merasa paling takut dengan kenaikan harga beras. "Lebih takut dari kenaikan harga bahan bakar minyak," ujarnya. Menurutnya, imbas melojaknya harga BBM muncul secara tidak langsung. Akan tetapih, kalau harga beras naik, maka efeknya langsung dirasakan oleh masyarakat. “Ini akan langsung datang efeknya. Jadi, kalau harga beras naik, bukan tidak mungkin maka persentase kemiskinan naik. Karena memang kenaikan harga beras paling sensitif,” ujar Chatib.

Selain itu, saat ini kenaikan harga beras menjadi penyumbang terbesar inflasi di Indonesia sejak Agustus hingga Oktober 2023. Ikatan Cinta Tamat, Arya Saloka Tiba tiba Muncul di SCTV, Tinggalkan RCTI? Gerindra Selip PDIP di Jatim Menurut Survei Elektabilitas Partai Politik Terbaru Jelang Pilpres 2024

Liverpool Memiliki 4 Opsi Transfer Gratis, Jurgen Klopp Bisa Tenang Hengkang dari Liga Inggris Dua Tim Sumatera Punya Kans Promosi ke Liga 1 Musim Depan, Lolos Semifinal Liga 2 2023 2024 Idham Mase Kekeuh Cerai dengan Catherine Wilson, Kecewa Keket Tak Mundur dari Caleg, Rebutan Suara Halaman 3

RESMI, Persib Bandung Umumkan Perpanjang Kontrak Bek Tengah yang Absen Lawan Persis Solo Besok Sore Bukan Soal Kuntitas Tapi Kualitas, dr Zaidul Akbar Ungkap Cara Tidur yang Baik untuk Kesehatan Tubuh Pengakuan Kakak Ipar soal Ria Ricis Tak Pernah Disentuh, Teuku Ryan: Paham Agama Seperti Fitnah Halaman 4

Harga beras melonjak karena pasokan turun, fenomena El Nino jadi penyebab utama kekeringan yang berakibat panen padi berkurang. Untuk mengantisipasi kenaikan harga beras tersebut, Chatib pun mengimbau pemerintah untuk menjaga suplai dan memberikan bantuan sosial. Langkah pemerintah untuk memberi tambahan bantuan beras sebesar Rp 2,67 triliun dan bantuan langsung tunai (BLT) El Niño sekitar Rp 7,52 triliun.

Menurutnya, ini akan mengurangi beban masyarakat di tengah masa sulit yang sedang berlangsung. Upaya pemerintah memasok beras masyarakat dilakukan dengan melakukan impor. Tahun ini targetnya impor beras hingga 3,5 juta ton. Sebanyak 2 juta ton di antaranya telah direalisasikan secara bertahap sejak awal tahun.

Sedangkan, tambahan kuota 1,5 juta ton di akhir tahun hanya mampu dipenuhi kontraknya sebanyak 1 juta ton. Sementara sebanyak 500.000 ton kuota impor beras tahun ini gagal dipenuhi Bulog. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras pada 2023 akan merosot menjadi 30,9 juta ton, dari produksi tahun sebelumnya mencapai 31,54 juta ton.

Hal ini diperberat dengan pemerintah India yang membatalkan ekspor beras untuk mengantisipasi permintaan dalam negeri. Kritik terhadap pemerintah akibat sulitnya mengimpor beras saat ini. Krisis pangan bukan terjadi di Indonesia saja, akan tetapi secara global.

Akibatnya Indonesia pun memiliki banyak pesaing dalam mengimpor beras. Hal ini dinilai akan berdampak pada upaya pemerintah melakukan pemenuhan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Adapun sebelumnya diungkapkan Direktur Bisnis Perum Bulog Febby Novita, saat ini Indonesia mengalami kesulitan ketika mengimpor beras.

Hal itu dikarenakan RI harus bersaing dengan Eropa yang juga ikut mengimpor beras karena tengah beralih dari gandum yang sekarang sedang mengalami pembatasan. "Persaingan impor beras antar negara lain sebenarnya sudah bisa ditebak. Yang butuh beras bukan cuma Indonesia, konsumen di Eropa juga mengkonsumsi beras selain gandum untuk penuhi kebutuhan kalorinya," ujar Bhima. Ia mengatakan, sejatinya sejak awal 2023, sudah ada tanda tanda stok CBP menipis, terutama usai India membatasi ekspor beras non basmati.

Namun, Bhima bilang saat itu pemerintah Indonesia masih overconfidence atau terlalu percaya diri (pede) dengan stok yang ada. Padahal, faktanya untuk penuhi stok tahun berjalan dan tahun depan agak berat. "Apalagi efek dari El nino di berbagai daerah masih jadi ancaman serius bagi panen raya pada kuartal I 2024," kata Bhima.

Akibat sulitnya impor beras, pemerintah pun mulai memikirkan untuk menambah persawahan untuk menanam padi. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menargetkan Indonesia swasembada beras dalam tiga tahun atau pada 2026 mendatang. Ia mengatakan, target tersebut dapat dicapai dengan mengubah lahan rawa menjadi sawah atau lahan pertanian.

Dia bilang, ada potensi 10 juta hektar lahan rawa yang bisa diubah. "Lahan rawa kita? Itu potensi kita ada 10 juta hektar, mudah mudahan bisa kita kejar 1 juta hektar per tahun. Kalau ini dikerjakan hampir pasti insyallah tahun ketiga sudah swasembada," kata Amran. Pria yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertanian di periode pertama Presiden Jokowi itu kemudian membeberkan lini masa dalam mencapai swasembada beras.

Amran mengungkap, setiap tahunnya hingga 2026 memiliki tonggak pencapaian yang berbeda beda. Contohnya pada tahun pertama, yaitu pada 2024, angka impor akan ditekan. Lalu, pada tahun kedua produksi sudah membaik, dan pada tahun ketiga Amran berharap RI sudah bisa swasembada beras. Arman mengaku optimistis bisa mencapai swasembada beras pada 2026. Hal itu karena saat menjabat sebagai Mentan pada 2014 2019, RI pernah berhasil swasembada beras.

"Dulu swasembada kan? Yang kerjakan kita kita kan? Kita dulu swasembada 2017, 2019, 2020 tiga kali saat Pak Jokowi presiden," ujar Amran.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *